Tampilkan postingan dengan label Sky High Collection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sky High Collection. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juni 2012

My Only Snow White - Heartbeat

“Jadi kamu bisa datang ke rumahku besok?”
“Tentu saja, kamu sudah siapkan semuanya?”
“Tenang saja, sudah aku siapkan semuanya. Jangan telat, ya,”
“Iya, aku tahu. Jangan beritahu Kana.”
“Tidak akan. Sudah dulu, ya. Dah!”
“Dah.” Aku menutup telepon dari Monica. Dia sangat antusias menyambut esok hari sampai – sampai dia mengingatkanku untuk datang ke rumahnya empat kali seharian itu. Besok kami, aku dan Monica, akan mengadakan pesta kejutan untuk merayakan seminggu Kana berpacaran dengan Alley (Red Tulip). Mungkin itu terdengar konyol tapi tidak masalah, aku senang merayakan sesuatu dengan teman – temanku. Aku merebahkan diri ke tempat tidur, memikirkan tentang persiapan lomba drama yang sudah dimulai sejak kemarin lusa. Kami akan melakukan drama ‘Snow White’. Aku tersenyum masam mengingat bagaimana Caesar menyarankan drama itu dan seenaknya menentukan kalau aku yang menjadi Snow White dalam drama itu. Yang benar saja, aku sudah muak dengan julukan Snow White dan sekarang aku harus memerankan Snow White di drama nanti. Memikirkannya saja sudah membuatku marah. Bunyi berisik HP-ku meredakan amarahku yang datang dengan cepat. Aku melihat nomor yang tertera di layar dengan satu alis terangkat. Aku tidak punya nomor ini yang berarti aku tidak tahu siapa itu. Dengan enggan dan ragu, aku memencet tombol jawab. “Halo?” suara yang sedikit rendah itu terdengar tidak asing… “Shirayuki-sama, apakah Yang Mulia di situ?” suara itu bertanya penuh canda yang menurutku tidak lucu. Yap, itu Caesar. Sialan, dari mana dia tahu nomorku! “Ooh, Shirayuki-sama. Hamba menunggu.”
“Apa?” ucapku geram.
“Hee… jadi ini memang nomormu.”
“Langsung ke intinya saja, Caesar!” seruku berusaha menahan amarah.
“Jangan marah – marah, Yuki. Nanti cepat tua, lho.” Aku bisa mendengar anak laki – laki itu terkekeh pelan.
“Tidak lucu. Kalau kamu tidak mau berbicara aku akan menutup telepon.”
“Oh, lakukan saja. Aku tetap bisa berbicara denganmu.” Apa maksudnya?
“Ayo, lakukan saja,” ucapnya dengan santai.
“Baik” aku langsung menutup telepon itu tanpa rasa menyesal. Malah aku puas tidak perlu berbicara dengan orang menyebalkan itu. Tanpa sadar aku mendengus keras dan memejamkan mata untuk beristirahat. Belum sampai satu menit aku memejamkan mata, aku mendengar pintu kamarku terbuka. Aku langsung terduduk di atas kasur. Detik berikutnya aku terbelalak menatap tamu tak diundang yang masuk ke kamarku.
“Wah, jadi kamar Yuki-sama memang kamar untuk tuan putri. Aku tidak menyangka kalau kamarmu ini berwarna merah muda dan tempat tidurmu penuh dengan boneka – boneka.”
Caesar melangkah dengan santai di dalam kamarku, terlalu santai hingga membuat amarahku memuncak dan tidak bisa dipendam lagi. Aku meraih apapun yang ada di dekatku lalu dengan sekuat tenaga melempar ke arah anak laki – laki yang sekarang mendekati meja belajarku. “KELUAR!” teriakku marah sambil terus melempar bantal dan boneka ke Caesar. “Aduh. Hei, hentikan.” ucapnya setelah bantalku mengenainya diikuti boneka beruangku. “Cepat keluar!” teriakku lagi masih penuh amarah. Tapi teriakanku itu tidak dihiraukannya. Dia mulai menghindari lemparanku dan berjalan ke arahku. Aku meraba – raba di sekitarku lalu sadar kalau tidak ada lagi yang bisa aku lempar, selain HP.
“Sekarang, bagaimana kalau kamu menenangkan diri sementara aku mengambil bonekamu yang berserakan, ya?” tanpa menunggu jawabanku dia mulai mengambil boneka anjing di dekatnya. Aku terdiam kaku masih dengan amarah yang sama. Langkah kaki terburu – buru terdengar di tangga sebelum wajah khawatir Bibi Margareth muncul di depan pintu. “Yuki, ada ap…” Bibi Margareth sepertinya terkejut melihat Caesar di kamarku, apalagi dia mengambil boneka dan bantal di lantai. Caesar sendiri belum sadar akan keberadaan Bi Margareth, dia masih tekun mengambil boneka dan bantal dari lantai. “Kamu siapa?” suara yang keluar dari bibir yang mulai keriput itu terdengar tegas dan tajam. Caesar menengadah menatap wanita yang menatapnya tajam itu dengan terkejut. “Kamu siapa?” ulang Bi Margareth karena tidak mendapat jawaban. Caesar langsung berdiri menghadap wanita yang sudah kukenal baik. “Aku… namaku Caesar. Aku teman sekelasnya Yuki.” Caesar terlihat sopan saat menjawab pertanyaan Bi Margareth. Lebih sopan daripada yang aku kira. Setelah mendengar jawaban yang cukup memuaskan, sebuah senyum menghiasi wajah Bi Margareth. “Oh, begitu. Salam kenal, namaku Margareth, pengurus rumah ini.” Bi Margareth tampak lebih tenang sekarang. “Yuki,” dia menoleh padaku,”Kenapa kamu berteriak seperti orang gila terhadapnya?” Bagus, sekarang aku akan mendapat ceramahnya. “Dia kan teman sekelasmu, memang kenapa kalau dia mengunjungimu. Itu sama sekali tidak salah, tapi kenapa kamu malah meneriakinya seperti melihat hantu.” Karena dia lebih menjengkelkan daripada orang dan hantu manapun, batinku tapi tidak kuucapkan. Bi Margareth hendak melanjutkan ceramahnya ketika Caesar menyelanya dengan sangat sopan,”Aku yang salah, Bi. Aku seenaknya masuk ke rumah ini dan aku juga seenaknya masuk ke kamar Yuki. Makanya tidak aneh kalau Yuki terkejut dan berteriak. Dia tidak salah.” Aku memang tidak salah, kalau kamu tidak masuk seenaknya dengan santai aku tidak akan membuat tenggorokanku sakit karena berteriak, batinku lagi. Bi Margareth menatap Caesar lalu menatapku dan tersenyum. “Kalau begitu aku tidak akan memperpanjang masalah ini lagi. Silahkan saja kalian berbicara dulu. Kamu mau minum apa, Caesar?” Bi Margareth menatap Caesar dengan ramah tanpa memedulikan tatapan tajamku. “Air mineral saja, Bi.” Lagi – lagi, dengan sangat sopan anak laki – laki itu menjawab pertanyaan Bi Margareth.
Akhirnya Bi Margareth undur diri meninggalkan aku dan anak laki – laki menyebalkan itu sendiri. Aku masih terdiam dengan tatapan membunuh yang kau tujukan pada satu – satunya orang di kamarku. Caesar melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sebelum dia menatapku. Lucunya, dia menatapku lembut dan menurutku itu menjijikkan. “Apa?” tanyaku kasar karena dia terus menatapku dengan pandangan yang tidak membuatku merasa nyaman. Dia berjalan ke arahku dan duduk di pinggir tempat tidurku, membelakangiku. “Aku pikir dia ibumu.” Dia tersenyum kecil saat mengatakan itu. Aku memberengut tidak mau membalas ucapannya. Kami terdiam cukup lama lalu Caesar memulai percakapan.
“Kamu jarang keluar rumah, ya?”
“Memang itu urusanmu.”
“Menurutku itu urusanku.” Aku merasa suhu tubuhku meningkat sedikit mendengar ucapannya.
“Terus kenapa kamu jarang keluar rumah?”
“Karena aku tidak punya tujuan untuk harus keluar rumah.”
“Kalau begitu buat saja tujuan itu.”
“Hah?” apa lagi maksud orang ini.
“Seperti ‘Aku mau melihat wajah Caesar yang sudah membuatku berteriak kagum’ atau ‘Aku mau meninju Caesar yang sudah membuat wajahku jelek’ kalau begitu kamu mau keluar rumah kan?” candanya sambil menatapku dengan mata yang berkilat senang.
Mau tidak mau, senyumku mengembang dan amarahku menguap ke udara. “Jangan cuma tersenyum, ayo tertawa. Kamu mau membuat calon komedian terkenal ini malu karena tidak bisa membuat seorang putri tertawa?” guraunya lagi. Aku menahan tawaku dengan menundukkan kepala tapi dia tidak mau menyerah. Saat aku pikir dia tidak bercanda lagi, aku mengangkat kepalaku dan mendapati dia menunjukkan wajah yang konyol. Aku tidak dapat menahan tawaku lagi. Aku tertawa sambil memukul pelan lengannya. Caesar berhenti melakukan hal itu lalu menatapku yang masih tertawa dengan senyuman. Saat aku bisa menghentikan tawaku, dia mendekatkan wajahnya pada wajahku. Pipiku memanas dengan cepat karena menatap wajahnya yang terlalu dekat. Dia tersenyum sebelum membuat jantungku tidak normal.
“Kalau kamu tertawa, kamu terlihat seratus kali lebih cantik daripada Snow White asli, makanya sering – seringlah tertawa. Kalau kamu tidak bisa tertawa, panggil komedianmu ini. Mengerti?” dia menyentuh kedua pipiku yang panas dengan senyumnya yang mempesona.
O oh, jantungku tidak mau berhenti berdetak kencang. Apa yang terjadi denganku?

Rabu, 09 Mei 2012

My Only Snow White - He Is Different


Ketukan di pintu kamarku membuatku terbangun, disusul suara tidak asing yang setiap harinya aku dengar,”Nona, ayo, bangun. Sarapan sudah siap di bawah.”
            “Iya, Bi,” sahutku dari dalam kamar. Aku mendengar langkah kaki turun ke bawah. Aku segera mengambil kacamata di meja belajarku lalu membuka jendela untuk membiarkan udara pagi masuk. Angin yang hangat berlomba – lomba masuk ke kamarku. Aku menatap kosong rumah – rumah yang berdempetan serasa melihat orang – orang yang berdesakan dalam kendaraan umum. Aku berbalik menuju pintu kamarku, bersiap – siap ke sekolah.
****
            Aku tidak melihat sosok wanita tinggi dengan gaya glamour-nya maupun laki – laki tinggi tegap dengan potongan kumis rapi. Seperti pagi – pagi biasanya. Hanya Bi Margareth di dapur, Pak Kasmir di garasi, dan aku di ruang makan, menyantap sarapan dalam keheningan. Aku mengambil piring dan gelas lalu pergi ke dapur. “Nona, sudah dibilang berapa kali, tidak usah membawa piring – piring kotor itu ke sini, biar aku saja yang membawanya,” Bi Margareth memberitahuku sambil menatapku penuh arti. “Tidak apa – apa, kok, Bi. Panggil saja aku Yuki, bukankah aku juga sudah memberitahu bibi berkali – kali tentang hal itu?” balasku penuh percaya diri namun tetap menjaga nada suaraku. Bi Margareth menatapku lama sebelum tertawa kecil lalu mengambil piring dan gelas di tanganku,”Kamu anak yang baik, Yuki. Sayang, mama dan papamu tidak tahu hal itu. Mereka terlalu sibuk bekerja. Sabar, ya, Yuki.”
            Aku tersenyum menatap punggung wanita yang sudah cukup berumur itu. Dia sangat baik, dia juga yang merawatku sejak kecil, selain Mamaku yang hanya merawatku hingga aku masuk TK. Aku melihat jam dinding yang tergantung di atas dapur. Mengetahuinya, aku langsung mengambil tasku dan membuka pintu,”Aku berangkat dulu, ya Bi,” anggukan kepala menjadi balasannya seperti biasa. Aku keluar menemui Pak Kasmir yang sudah duduk di kursi pengemudi, siap untuk mengantarku ke sekolah. Aku masuk ke mobil itu, tidak mau membuat sopir sabar itu menunggu terlalu lama. Setelah tahu kalau pintu penumpang sudah tertutup rapat, Pak Kasmir melajukan mobil keluar halaman rumah, menuju Sky High.
****
            “Yuki!” sapa Sanni dengan ceria. Aku tersenyum membalas sapaannya setiap pagi.
Sanni adalah teman sekelasku. Dia selalu ceria dan selalu tersenyum. Dia ikut ekskul cheerleader, sama seperti Monica. Dia orang yang supel, berkebalikan denganku yang pendiam dan penyendiri. Seluruh anak kelasku berteman baik dengannya. Sifatnya juga baik dan jujur.
Aku pergi ke tempat dudukku yang ada di barisan paling belakang. Aku meletakkan tasku dan duduk di kursi yang dingin itu, menatap ke depan, entah apa yang aku lihat. Akhirnya aku menoleh, menatap anak yang duduk di sebelahku. Rambut hitam itu menutupi wajahnya yang menghadap ke permukaan meja, dia tidur seperti pagi biasanya. Caesar –itu namanya– selalu seperti itu. Menurutku pribadi, sifat dan namanya itu tidak cocok. Nama Caesar berarti kaisar yang tegas dan dihormati karena kepemimpinannya, tapi Caesar yang ini lebih sering bercanda, tidak tegas bahkan terkadang aku lihat dia selalu berkumpul dengan perempuan yang berganti terus tiap harinya,meski aku akui nilainya lumayan.entah karena tatapanku atau karena insting, dia terbangun dari tidurnya dan menoleh, mendapati kalau aku sedang menatapnya. “Ah, Putri sudah datang? Maaf, hamba tidak menyapa anda tepat waktu. Pagi, Yang Mulia Snow White,” sapanya dengan candaan dan senyumnya yang –cukup– menawan. Aku menoleh menghadap arah yang berlawanan sebagai balasan sapaan yang aku tidak suka itu. Entah dia sengaja atau tidak, aku tidak suka mendengar panggilan ‘Putri’ maupun ‘Snow White’. “Ah, Putri marah, ya. Jangan marah, aku cuma bercanda, kok, Yuki,” ucapnya memohon saat melihat tindakanku. Mereka, yang melihat ‘komedi’ tidak lucu ini –menurutku– tertawa dan mulai berkumpul di meja Caesar. Aku kembali menatap meja Caesar yang kini ramai dengan teman – temannya. Mungkin aku memang tidak suka disapa seperti itu, tapi hanya dia satu – satunya anak laki – laki di kelasku yang menyapaku setiap pagi. Aku merasa….bersyukur, karena dia yang duduk di sebelahku dan bukan anak laki – laki lain yang tidak mungkin berani menyapa Snow White tidak ramah ini. Aku menatap meja Caesar yang penuh itu hingga bel masuk berbunyi.
****
“Yuki, sudah kamu kumpulkan?”
“Iya, ini Kakak lihat saja sendiri,”
Aku sedang berada di ruang ekskul drama, membahas lomba – lomba drama yang ada di sekitar sekolah dengan ketua ekskul ini, Ko Sammy. Setelah ada lomba yang dipilih, Ko Sammy akan mengajukannya ke pembimbing kami. “Kalau yang ini bagaimana? Lokasinya tidak jauh dari sini,” kata Sandra, sekretaris ekskul drama. “Tapi jangka waktunya terlalu singkat untuk latihan,” sahut Loki, bendahara ekskul drama. Hanya tiga orang ini beserta aku, yang menjabat wakil ekskul drama, berdiskusi dengan serius tentang lomba – lomba, sedangkan anggota ekskul ini sedang bermalas – malasan di dalam ruangan yang cukup besar ini. Mereka duduk berkelompok, membahas sesuatu yang tampaknya tidak kalah penting dengan lomba drama yang kami bahas. Caesar duduk tidak jauh dari tempat kami berdiskusi. Ya, dia ikut ekskul ini. Aku sendiri terkejut mengetahui anak laki – laki yang aku kenal itu masuk ke ruang ekskul ini. Dia pasti ikut karena tahu kalau ekskul ini lebih mempunyai waktu luang daripada waktu serius. Aku kembali berdiskusi dengan yang lainnya, tidak sadar kalau Caesar menatapku.
****
            “Sekian untuk hari ini. Aku harap ada yang bisa memberi saran tentang drama apa yang akan kita mainkan. Kalian boleh pulang,” seru Bu Catharina lantang. Aku bangkit dengan lelah setelah diskusi yang lama. Anak – anak yang lain sudah berhamburan keluar ruangan dengan semangat. Aku keluar setelah gerombolan anak perempuan, tiba – tiba aku merasa ada yang memegang pundakku. Aku berbalik melihat Ko Sammy di hadapanku,”Makasih, ya, sudah mencari info lomba – lomba drama. Maaf kalau aku sudah menyusahkanmu,” dia mengatakan itu dengan lembut. Aku hanya menggelengkan kepala sebelum dia keluar dengan melambaikan tangan padaku. Aku membalas lambaiannya saat Caesar muncul dari belakangku. “Kamu sangat akrab dengannya, ya, Snow White. Seperti putri dan pangeran,” godanya melihat aku membalas lambaian Ko Sammy. “Apa maksudmu dengan putri dan pangeran? Aku dan Ko Sammy hanya berteman, itu saja. Dan berhentilah memanggilku Snow White,” jawabku ketus. “Hmm, benarkah?” tanyanya lagi, membuat emosiku memuncak. “Iya!” seruku dengan emosi. “Oke…oke. Jangan cepat marah seperti itu, nanti cantiknya hilang, Yuki,” ucapnya lembut, membuat emosiku turun drastis. Aku hanya tetap berjalan sampai ke gerbang sekolah tanpa menoleh ke belakang. “Menunggu mobilmu seperti biasa?” aku terkejut mendengar suara Caesar yang ternyata masih ada di belakangku. “Iya,” jawabku agak lama. “Papamu yang menjemput?” tanyanya lagi. “Bukan,” balasku singkat. “Siapa?” dia seperti menuntutku saat bertanya. “Sopirku,” jawabku menyerah. Aku siap kalau dia menggodaku lagi, tapi dia tidak melakukan itu, justru sebaliknya. “Oh, aku pikir papamu yang menjemputmu tiap harinya. Papamu sibuk bekerja, ya? Mamau juga kan? Kalau aku jadi kamu, aku pasti sudah kabur dari rumah atau menjadi berandalan di sekolah supaya mereka mengetahui keberadaanku. Kamu hebat, ya, tidak egois padahal kamu kesepian kan. Aku temani sampai mobilmu datang, ya.”
Aku merasa tersentuh dengan ucapannya. Aku menahan air mataku agar tidak tumpah. Aku tidak pernah tahu ada laki – laki sebaik dia. Aku pikir dia akan menggodaku seperti kebanyakan anak laki – laki lain, tapi bukannya menggodaku dia malah menghiburku. Caesar benar, selama ini aku kesepian, seperti ada lubang besar dalam hatiku . Lubang itu sudah ada sejak orang tuaku kembali ke kesibukan mereka, tanpa sekalipun menoleh padaku. Lubang itu terus membesar meskipun aku sudah mempunyai teman yang selalu ada di sisiku. Tidak ada yang bisa menutupnya, sampai saat ini. Sampai Caesar menghiburku. Lubang itu mulai tertutup karena hiburan yang diberinya. Aku merasa tenang, damai, dan…bahagia.

Selasa, 08 Mei 2012

Red Tulip - The Confession


Cahaya matahari pagi merembes masuk dari sela – sela jendela kamarku. Benar – benar menyilaukan sekaligus menyebalkan. Aku tidak ingin pergi ke sekolah apalagi kalau bertemu Alley. Sejak Yuki memberitahuku semua yang dia lihat, aku selalu menghindari Alley. Dan sekarang sudah hari keenam aku menghindarinya, tepat saat hari ulang tahunku. Aku bangkit dari tempat tidur dengan malas dan melihat layar HP di meja pendek yang bersebelahan dengan tempat tidurku. Jam lima lewat tiga puluh tepat. Tanpa memedulikan waktu aku keluar dari kamar, mempersiapkan diri untuk ke sekolah dengan malas.
****
            “Kana,” Aku mendengar suara di dekatku.
            “Kana,” suara itu terdengar familiar.
            “KANA!” aku tersentak dan bangun dari tidur singkatku. Aku kebingungan melihat sekelilingku, tidak tahu di mana aku berada. Masih kebingungan, aku melihat Monica dengan wajahnya yang khawatir, langsung saja otakku bekerja lalu aku teringat kalau aku ada di kelasku. “Kamu tidak apa – apa? Mukamu pucat. Akhir – akhir ini kamu tidak seperti biasanya, ada apa? Kamu sedih karena tidak mendapat kiriman tulip lagi?” tanyanya sedikit bercanda. Ah, iya, sudah lima hari aku tidak mendapat kiriman tulip lagi. Aku hanya menggelengkan kepala dengan lemas dan tersenyum. Sepertinya responku tidak berhasil membuat Monica tenang, dia malah menjadi – jadi. “Kamu mau aku antar ke UKS? Atau kamu mau pulang? Ah, atau kita harus ke rumah sakit?” ucapnya seperti kesurupan. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya yang mondar – mandir di depanku. “Tenanglah, aku tidak apa – apa. Aku sehat, hanya sedikit mengantuk,” suaraku terdengar lemah saat keluar dari mulutku. Monica melihatku masih dengan wajah khawatirnya,”Yakin?” tanyanya penuh perhatian. Aku mengangguk lalu senyum mengembang di wajahnya. Dia memelukku lalu beralih ke mejanya, mengambil sesutau dari tasnya. “Ini, happy birthday,” ucapnya sambil menyerahkan kotak kecil berwarna merah dengan pita putih. Aku kaget dan menerimanya dengan senang hati. “Boleh kubuka?” dia membalas dengan anggukan penuh semangat. Saat kubuka hadiah kecil itu, aku terkejut melihat isinya. Sebuah gelang, berbentuk kepang, berwarna perak dan merah mengkilat ditambah bandulan berbentuk bintang merah terletak di tengah kotak itu. “Kau suka?” wajah Monica mendekat saat bertanya. “Tentu saja, thanks,” balasku dengan senyumku yang muncul begitu saja. “Untunglah. Sekarang kita punya sesuatu yang sama. Kemarin aku juga memberi Yuki gelang yang serupa, hanya warnanya saja yang beda. Nih,” dia menunjukkan gelang yang sama persis dengan yang kuterima, hanya warnanya perak dan biru. “Punyanya Yuki berwarna perak ungu,” aku mengangguk tanpa diminta. Tiba – tiba bel masuk terdengar nyaring menembus telinga kami, spontan aku dan Monica duduk di kursi masing – masing. Aku cukup senang menerima hadiah dari Monica pagi itu, meski aku lebih mengharapkan melihat setangkai tulip merah dengan catatan puitisnya di atas mejaku.
****
            “Eh, Alley kok tidak menampakkan batang hidungnya dari minggu lalu? Kamu tahu penyebabnya, Kana?” untuk kesekian kalinya, aku tersentak kaget dari lamunanku. “Apa?” tanyaku polos. Monica dan Yuki melihatku dengan khawatir,”Akhir – akhir ini kamu lebih sering melamun, kenapa?” tanya Monica dengan kekhawatiran lagi. Yuki memandangku dengan penuh perhatian seolah aku adalah bayi yang harus diasuhnya. Aku menggeleng dan melahap roti yang dari tadi kupegang. Kedua temanku itu akhirnya menyrah, mengetahui kalau aku tidak mau menjawab pertanyaan itu. Kami sedang berada di halaman sekolah, menyantap makanan di waktu istirahat, saat hal yang benar – benar tak terduga terjadi.
Lagu klasik yang tersiar dari setiap speaker pemberitahuan di sekolah berhenti begitu saja. Aku dan kedua perempuan di sebelahku spontan mendongak melihat speaker yang ada tidak jauh dari kami. “Tes…tes… Ehm, aku harap aku tidak mengganggu waktu istirahat kalian semua. Ah, namaku Mike dari kelas delapan tiga, bertugas sebagai pengawas ruang siaran hari ini, dan pada hari yang penting untuk seseorang, aku akan menyerahkan ruang siaran ini untuk seorang temanku selama lima menit,” suara laki – laki di speaker itu berhenti disusul suara laki – laki lain yang terdengar familiar di telingaku,”Ehm, ah, aku Alley dari kelas delapan tiga dan aku akan memakai ruang siaran ini selama lima menit. Ehm, pertama aku ingin meminta maaf pada seseorang yang tidak kutemui akhir – akhir ini, tapi itu semua karena aku menyiapkan semua ini, termasuk meminta ijin pada guru yang bertanggung jawab terhadap ruang siaran ini. Kedua, aku juga ingin meminta maaf kalau kamu tidak menemukan kejutan lagi setiap paginya sejak minggu lalu. Itu karena aku menabung untuk membeli hadiah untukmu hari ini, dan yang kumaksud dengan kejutan itu adalah tulip merah dan catatan kecil. Ya, aku yang meletakkan hadiah itu di mejamu, dan bisa kulihat kamu sangat menyukainya,” Jantungku berdegup kencang mendengarnya dan aku merasa pipiku memerah. Apa aku tidak salah dengar? Apa aku tidak sedang bermimpi? Apa ini benar – benar terjadi? “Ehm, dan yang ketiga untuk orang yang kumaksud, aku harap kamu mau menemuiku sekarang di ruang siaran ini sebelum waktuku habis,” Aku masih duduk dengan kaku, tidak beranjak dari posisiku. “Kana! Apa yang kamu lakukan? Ayo, sana temui pangeranmu!” seru Monica melihatku todak beranjak.
“Mungkin…dia hanya bercanda. Tunggu saja sebentar lagi, dia pasti akan bilang kalau dia hanya bercanda untuk hari ulang tahunku,” balasku gugup, hatiku tidak percaya akan apa yang keluar dari mulutku.
“Jangan bersikap seperti orang bodoh. Dia memanggilmu, dia menyiapkan ini semua. Kalau dia bercanda, lalu untuk apa dia memberimu tulip dan puisi – puisi romantisnya. Sudah cepat pergi sana,” paksa Monica. “Pergilah, Kana. Atau kamu akan menyesal nantinya,” tambah Yuki. Aku terdiam mendengar itu semua. Dalam kepalaku aku mendengar suara yang setuju akan hal itu, hatiku juga ingin agar aku segera menemui Alley, tapi otakku berkata yang lain. Akhirnya dengan sedikit harapan –sangat sedikit– aku beranjak dan mulai berlari ke ruang siaran. Seluruh orang yang ada di dalam sekolah melihatku seperti melihat sebuah drama televise. Aku sendiri merasa seperti berada di dalam drama itu sendiri. Kakiku bergerak sendiri menuju ke ruang siaran. Aku tiba di lorong yang penuh dengan murid – murid yang ingin tahu. Saat mereka melihatku, jalan langsung terbuka begitu saja untukku. Mereka melihatku, tertarik, saat aku melintas di depan mereka. Setibanya di depan ruang siaran, aku berhenti. Kakiku tidak mau melangkah lebih dari itu. Tanpa diminta, pintu ruang siaran terbuka dari dalam, sebuah tangan terulur menarikku ke dalam. Tubuhku seperti boneka saat ditarik, tidak menolak malah membiarkan itu terjadi. Di depanku, berdiri dengan postur seperti yang biasa kulihat, Alley menatapku dengan mata coklatnya. Aku membalas tatapannya dengan menjaga jarak. Dia bergerak mendekat sedangkan aku diam kaku. Kami berdiri dalam diam, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saat itu aku sadar kalau hanya kami berdua yang ada di dalam ruang itu. “Em,” aku terkejut mendengar suara Alley. Aku menatapnya saat dia menyerahkan sesuatu di depanku. Aku mentapnya dengan mata terbelalak, dengan tangan menutup mulutku. Alley menyerahkan buket bunga yang berisi belasan tangkai tulip merah dan sepucuk kertas kecil di atasnya. Aku mengambil buket dari tangannya dan mengambil kertas itu. “Bacalah,” katanya tenang. Aku membalik kertas itu.
Ingat tidak dengan janji kita dulu? Hari ini aku mau menepati janji itu, makanya mau tidak berpacaran denganku?
Aku tidak percaya dengan apa yang kubaca. Jantungku masih berdetak kencang sedangkan hatiku seperti melompat kegirangan. “Ini…sungguhan? Aku tidak bermimpi kan?” ucapku masih tidak percaya. Alley berjalan mendekatiku lalu memelukku begitu saja. “Ini sungguhan,” bisiknya di telingaku,”Jadi apa jawabanmu?” Air mataku mengalir dengan tenang, bukan karena sedih, tapi karena senang. “Iya, aku mau,” jawabku dengan suara yang bergetar. Alley menatapku sukup lama, tampak tidak percaya, lalu senyumnya mengembang begitu saja. “Ah,” serunya sambil berjongkok. “Aku pikir kamu akan menolakku, melihat sikapmu akhir – akhir ini. Syukurlah,” lanjutnya sebelum mendongak menatapku. “Besok aku boleh menjemputmu kan? Bukan sebagai teman sejak kecil, tapi sebagai pacar. Ya?”
“Iya,” jawabku dengan bahagia. Aku tidak menyangka kalau perasaanku akan terbalas. Ini adalah hadiah terbaik yang aku terima, sangat mengagetkan memang, tapi seangat membahagiakan juga…
****
“Alley,”
“Iya?”
“Kamu pernah menemui ceceku di Taman Hijau?”
“Cecemu memberitahumu?”
“Tidak, Yuki melihat kalian. Katanya…kalian berpelukan,”
“Ah, jangan salah paham. Itu hanya pelukan antar saudara saja,”
“Oh, apa yang kalian bicarakan?”
“Aku memberitahunya kalau sarannya untuk memberimu tulip merah berhasil, lalu aku tanya sebaiknya apa yang harus aku beri pada hari ulang tahunmu sekaligus untuk me’nembak’mu. Itu saja. Dia benar – benar tahu apa yang bisa membuatmu senang, jadi aku minta saran padanya, tapi aku minta dia supaya tidak memberitahu tentang diskusi itu,”
“Cuma itu?”
“Cuma itu. Itu Monica. Nanti pulang aku tunggu di depan kelasmu ya,”
“Iya,”
****
“Alley, menurutmu Ce Jilly cantik tidak?”
            “Cecemu?”
            “Iya,”
            “Tentu saja, dia juga terlihat dewasa. Aku suka perempuan seperti itu,”
            “Kamu suka ceceku?”
            “Iya,”
            “Bagaimana denganku? Kamu tidak menyukaiku?”
            “Tentu saja aku menyukaimu. Kamu ini sudah seperti adik perempuanku yang berharga,”
            “Berarti kamu menyukaiku sama seperti kamu menyukai ceceku?”
 “Iya, seperti itulah,”
            “Kalau begitu janjilah padaku satu hal,”
“Apa?”
“Berjanjilah, kalau nanti kamu menyukaiku lebih dari ceceku, kamu akan menjadikanku pacarmu. Bagaimana?”
“Ehm, baiklah. Kalau begitu sini kelingkingmu… Aku berjanji akan menjadikan Kana sebagai pacarku kalau aku menyukainya lebih dari Ce Jilly,”
“Janji harus ditepati, lho”
“Iya, tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi,”
“Siapa bilang. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan kan?”

THE END…


Thank you for reading….
I hope you like it….

Minggu, 06 Mei 2012

Red Tulip - A Painful Fact


”Jadi kamu sudah mengetahauinya?” seru Monica dengan bersemangat di HP-ku.
“Tahu apa?” balasku masih tidak tahu akan apa yang dimaksud dengan ‘nya’ oleh Monica.
“Ya, ampun, siapa lagi kalau bukan yang memberimu tulip dengan catatan puitisnya itu. Sudah seminggu kan sejak kejadian itu dan setiap harinya kamu menerima tulip dan puisi – puisi romantisnya. Ah, mungkin dia akan memberimu buket bunga tulip saat ulang tahunmu Senin depan lalu dia akan me’nembak’mu! Ahh…. Kau sangat beruntung Kana,” sahutnya iri.
“Hahaha… Iu tidak mungkin terjadi, bisa saja dia tidak tahu kalau minggu depan aku akan berulang tahun. Tapi aku tetap tidak tahu siapa yang memberiku tulip setiap paginya. Hanya keluargaku saja yang tahu kalau aku suka bunga tulip merah,”
“Mungkin saja itu Alley, dia kan mengenalmu sejak TK,”
“Tetap saja, dia tidak tahu menahu kalau aku suka tulip merah. Lagipula, kemarin kan aku berangkat dengannya, kalau dia memang orang yang memberiku bunga, kapan dia meletakkannya di mejaku?” Hening sejenak sebelum lawan bicaraku ini menjawab,”Iya juga,sih. Eh, bagaimana kalau dia menitipkannya pada Raymond? Raymond kan temannya.” Aku terdiam memikirkan kemungkinan itu. Mungkin saja… Ah, tidak, tidak mungkin. “Kana? Oi, kamu sedang berkhayal yang aneh – aneh ya?” goda Monica setelah mendengar keheningan. “Tidak. Aku cuma memikirkan sesuatu yang tidak penting. Sudah ya, telingaku panas nih,”
“Ah, ya, good night,” salamnya sebelum menutup perbincangan yang berjalan selama satu jam lebih. Aku menatap layar HP-ku. Bagus, satu garis merah mengisi gambar baterai di layar. Padahal baru tadi siang aku mengecasnya. Aku berjalan ke arah charger dan mengecas HP-ku. Aku melirik ke arah jam di meja belajarku. Jam setengah tujuh. Harusnya Yuki sudah ada di sini sepermpat jam yang lalu. Yuki adalah salah satu teman baikku selain Monica, terkadang kami berkumpul bersama, tapi Yuki seringkali sibuk karena ekskulnya. Dia menjabat wakil ketua di ekskul drama. Orangnya tidak ingin terlihat menonjol tapi fisiknya sudah menonjol. Kulitnya putih dengan rambut hitam ditambah dengan bibir merah, persis seperti Snow White dalam cerita dongeng, yang berbeda hanya sikapnya yang pendiam dan tertutup. Kalau kami jalan bertiga, aku dan Monica pasti disebut ‘kurcaci – kurcaci penolong’ Yuki.aku sedikit prihatin dengan sikapnya, salah sedikit pasti menimbulkan kesalah pahaman. “Kana, Yuki sudah datang,” aku terbangun dari lamunanku dan beranjak ke bawah. Kulihat Mama baru keluar dari ruang tamu,”Di dalam,” ucapnya singkat lalu berlalu begitu saja. Aku masuk ke ruang tamu, berhadapan dengan perempuan berkacamata yang duduk menunduk gelas berisi teh di dalamnya. “Halo, baru sampai?” sapaku menyadarkannya dari lamunannya. Dia mendongak dan tersenyum,”Iya, maaf, ya aku telat. Sopirku masih harus mengantar anaknya dulu baru menjemputku,” Ah, ya, Yuki anak dari sepasang artis Indonesia dan businessman Jepang, jadi tidak terhitung jumlah warisannya nanti, tapi dia tidak pernah menyombongkan itu semua. Aku masih berdiri memandanginya,”Kana?” cicitnya. Aku langsung mengerjap kaget, entah kenapa akhir ini aku lebih sering melamun. “Mau ke kamarku?” tanyaku begitu saja. Yuki mengangguk dan mengikutiku ke atas. Dia duduk di atas kursi santai sedangkan aku duduk di atas ranjang. Dia terlihat gugup karena ini kali kedua dia masuk ke kamarku. “Sebentar, ya. Aku ambil dulu… Ngomong – ngomong, apa yang mau kamu pinjam tadi?” ucapku berbalik menghadapnya. “My First Love,” jawabnya antusias. Aku mengangguk, berbalik ke rak bukuku yang berisi novel – novel. Aku menyerahkan novel yang dimaksudnya,”Bahan atau bacaan?” tanyaku seperti biasa. “Bacaan,” jawabnya lagi sembari memasukkan novelku dengan hati – hati ke tasnya. Dia berbalik menghadapku, mentapku dengan mata yang penuh rasa ingin tahu sebelum bertanya,”Aku dengar kamu punya penggemar rahasia. Kamu sudah tahu siapa dia?” Pertanyaan itu seperti tidak ada habisnya. “Tahu dari siapa? Monica?” tanyaku merasa mengetahui biang keladinya. Sayangnya aku salah. “Hampir seluruh kelas delapan tahu tentang tulip merah misterius, termasuk kelasku. Itu yang akhir – akhir ini dibicarakan anak – anak kelasku,” jelasnya tanpa melepas pandangan dariku barang sedetik. Aku cuma bisa menghela napas panjang malu akan berita yang bahkan aku tidak tahu.
“Jadi, kamu belum tahu siapa dia?” tanyanya lagi dengan nada penasaran yang kental. Aku mengangguk lemas menghadapi pertanyaan yang sama untuk kesepuluh kalinya dalam sehari. Yuki menunduk setelahnya tapi dia mendongak melihatku dengan sorotan mata aku-tahu-sesuatu. “Ada apa?” tanyaku untuk membuka mulutnya. “Ehm, aku tidak tahu apa yang aku lihat ini benar atau tidak,” suaranya bergetar ketakutan saat mengucapkan itu. Aku bingung dengan apa yang dibicarakan Yuki. ”Sebenarnya aku melihat Alley –atau menurutku Alley- Sabtu minggu lalu di depan Taman Hijau dengan cecemu, tapi aku tidak terlalu yakin.” Hah? Alley menemui ceceku? “Lalu mereka seperti membicarakn sesuatu yang rasanya asyik sekali, mereka bahkan tidak tahu kalau aku ada di sana memperhatikan mereka,” lanjutnya.
“Teruskan,” ucapku lemas.
Yuki tampak ragu lalu melanjutkan,”Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan jadi aku tunggu saja sampai cecemu pergi baru aku akan bertanya pada Alley. Itu rencanaku sebelum…”
“Sebelum?” dadaku sakit hanya mendengarkan hal ini.”Lanjutkan saja,” ucapku meski aku tahu kalau air mataku akan mengalir tidak lama lagi.
“Sebelum aku melihat mereka…berpelukan dan akhirnya pergi berdua dengan bergandengan,” tutup Yuki dengan merasa bersalah. Mataku panas, dadaku sakit, ini yang paling aku takutkan. “Kana, maaf. Aku tidak seharusnya memberiatahumu ini, tapi aku merasa perlu memberitahumu,” ucapnya penuh rasa bersalah. “Tidak apa – apa, Yuki. Itu bukan salahmu, justru aku berterima kasih karena kamu sudah memberitahuku hal ini,” aku memaksa bibirku untuk tersenyum yang ternyata berhasil meski senyum itu terlihat jelek dan air mataku turun begitu saja. Yuki bangkit dari duduknya, menghampiriku dan menghapus air mataku. Dia memelukku layaknya sahabat sedangkan aku menangis dalam pelukannya yang hangat itu. Apa yang baru saja kudengar hanya menunjukkan satu hal. Aku dan Alley hanya sekedar teman sejak kecil, tidak akan lebih dari itu…
****
            “Alley, menurutmu Ce Jilly cantik tidak?”
            “Cecemu?”
            “Iya,”
            “Tentu saja, dia juga terlihat dewasa. Aku suka perempuan seperti itu,”
            “Kamu suka ceceku?”
            “Iya,”
            “Bagaimana denganku? Kamu tidak menyukaiku?”
            “Tentu saja aku menyukaimu. Kamu ini sudah seperti adik perempuanku yang berharga,”
            “Berarti kamu menyukaiku sama seperti kamu menyukai ceceku?”
            “Iya, seperti itulah,”
            “Kalau begitu janjilah padaku satu hal,”
“Apa?”
“Berjanjilah……”